Perjalanan Master - Bagian Pertama

Halo

Nama saya Fakhri Adrian

Ini adalah cerita kisah perjalanan Magister saya yang akan dibagi menjadi beberapa bagian.

 


Bagian Pertama.

Pada tahun 2018 saya akhirnya memulai jenjang pendidikan magister saya.

Diawali dengan resign dari kantor karena ingin lebih fokus untuk belajar S2 dan ingin bersekolah di Jepang. Sudah membuat draft proposal topik yang mau diangkat menjadi tesis nanti, lalu mencari Sensei yang cocok untuk menjadi pembimbing selama penelitian disana. Saya mengincar untuk bersekolah di TITECH atau Tokyo Institute of Technology. Namun karena satu dan lain hal beasiswa untuk bersekolah di TITECH hanya tinggal kenangan. Lalu untuk membiayai secara mandiri, ternyata adminssion fee di sana sangat mahal ditambah lagi living costnya. Jadi sebagai anak yang baru kerja satu tahu, resign, dan jobless merasa akan memberatkan Ayah dan Mami jika dipaksakan untuk bersekolah disana. Jadi, setelah itu saya berkomitmen untuk melanjutkan S2 saya di dalam negeri.

Berawal dari bulan Februari, saya mulai untuk mendaftar kuliah S2 di Institut Teknologi Bandung. Ternyata untuk diterima kuliah S2 di Institut Teknologi Bandung terdapat beberapa persyaratan yang dipenuhi, seperti harus memiliki skor TPA Bappenas di atas 450, toefl di atas 500 (kalo gak salah), dan beberapa hal lainnya (administrasi kesanggupan dll). Ternyata untuk mendapatkan skor TPA Bappenas itu sangat sulit apalagi 450, ketika mau melakukan test tersebut saya membaca banyak tulisan di internet yang mengatakan kalau banyak yang gagal atau mengulang beberapa kali untuk mendapat skor TPA 450. Alhamdulillahnya karena saya sedang dalam keadaan tidak bekerja, jadi memiliki banyak waktu untuk belajar dan tidak hanya itu, niat untuk melanjutkan kuliah S2 itu yang membuat semangat membara-bara menjadikan belajar semakin serius dan akhirnya mendapat skor TPA Bappenas sebesar 588,80. Setelah melakukan tes TPA, saya mulai belajar untuk toefl, supaya sekaligus saya melakukan test toefl di lembaga bahasa ITB supaya dapat diterima dan dipercaya oleh instansi tersebut. Saya melalukan tes sepertinya di akhir Februari atau awal bulan Maret 2018. Sekalilagi sangat menggembirakan ketika hasil tes toefl tersebut keluar. Hasil skol toefl nya adalah 107. Loh kok kecil banget!!! Cuman 107... itu mah jauh banget dari cukup.. eitsss ternyata skor UPT Pusat Bahasa itu berbeda dengan skor toefl di luaran. Karena nilai nya adalah nilai ELPT-ITB yang dapat dikonversi menjadi nilai Toefl (Paper-Based Test). Nilai 107 pada ELPT ITB itu sama dengaaaaaaaaaaaaaaaaan 544 skor Toefl Paper Based Test. Jadi alhamdulillah nilai toeflnya di atas 500 dan memenuhi persyaratan pendaftaran ITB.



Setelah lolos syarat administrasi, saatnya melakukan tes tulis dan wawancara oleh dosen-dosen ITB. Oh iya, saya mendaftar di Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota atau biasa disebut Planologi yang masuk ke dalam lingkup SAPPK ITB. Pada tes tersebut kita diminta untuk menjelaskan peminatan kita dalam penelitian di jenjang magister, lalu apa topik yang akan dibahas, kenapa membahas topik itu, dan apa pentingnya membahas topik tersebut terhadap perencanaan wilayah dan kota yang ada di Indonesia maupun dunia. Finally, tanggal 13 April 2018 saya resmi diterima menjadi calon anak Magister ITB..............................

Siap-siap lanjut ke Bagian Kedua!!!!!!!

See You!



Comments

Popular posts from this blog

What i need for now..

long TIME no SEE

Swalayang